Sepotong tinjauan tentang acara perdana oleh RMA: Co-ass Corner

19 02 2009

Pembicara kedua adalah dr.Agus Fitrianto, lulusan FK Undip angkatan 1999 yang melanjutkan PTT di Pulau Kesui, Maluku, yang saat ini sedang menempuh tahun pertama di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Undip. Pembicara kedua ini menyapa audiens dengan pertanyaan menantang, “Mau jadi apa Anda dalam 5 tahun ke depan?” yang segera dijawab dengan tegas oleh seorang audiens, Kak Andy Kris dengan, “saya akan mendaftar PTT, kemudian melanjutkan spesialis.”

Tema yang dibebankan pada sesi kedua ini adalah mengenai pentingnya membuat peta hidup. Maka beliau menekankah pentingnya memiliki visi dalam hidup. Visi-lah yang menentukan koridor kita untuk sampai tujuan. Visi-lah yang menjaga kita tetap berada pada jalur yang sesuai, yang akan mengantar kita pada visi tersebut.

Dr. Agus memulainya dengan mengisahkan perjalanan beliau bahwa pada awalnya setelah lulus beliau bertujuan untuk mencari pengalaman dan mencari uang untuk melanjutkan sekolah spesialis Anak. Dr. Agus meyakini bahwa dengan keyakinan, semuanya bisa kita lakukan. Lulusan Undip harus percaya diri, yakin akan kemampuan diri sendiri. Beliau bercerita bahwa pertama kali datang ke Pulau Kesui, tidak ada satu pun kemampuan berikut yang beliau kuasai: apendiktomi, amputasi, sectio caesaria, dan satu lagi (penulis lupa, red.), dan pulang ke Jawa dari Kesui, keempatnya terkuasai. Beliau terpaksa melakukan hal-hal semacam itu untuk menolong pasien.

Selain sebagai orang yang membantu mengantarkan kesembuhan orang lain, dokter adalah fasilitator masyarakat. Beliau ditempatkan di daerah terpencil pascakonflik, di mana peran seorang mediator untuk mendamaikan sangat dibutuhkan. Daerah itu baru mendapatkan dokter saat beliau datang, sejak Indonesia merdeka. Dan di sinilah salah sartu peran dokter. Dokter juga pengajar, karena banyak petugas kesehatan yang tidak terlalu terlatih yang membutuhkan pelatihan. Dokterlah yang diharapkan dapat membagi ilmu dan keterampilannya kepada para petugas kesehatan lainnya. Revitalisasi di daerah itu pun perlu dilakukan, maka dokterlah yang menjadi motor penggerak revitalisasi di bidang kesehatan, seperti memperbaiki Puskesmas yang sudah sangat buruk kondisinya, menyuplai obat-obatan, dan sebagainya.

Senada dengan pembicara pertama, dr. Agus menekankan pentingnya Ilmu Kesehatan Masyarakat ketika menjadi dokter PTT, di mana ilmu semacam ini sangat aplikatif.

Keterbatasan waktulah yang menghentikan cerita beliau mengenai pengalaman pribadi menjadi dokter PTT di Kesui. Topik utama sesi kedua ini adalah membuat peta hidup untuk membantu pencapaian tujuan setelah lulus dokter nanti. Karena penulis yakin banyak audiens (dan para pembaca yang tidak berkesempatan hadir) ingin tahu lebih banyak mengenai cerita pengalaman beliau, penulis menyarankan para pembaca untuk mengunjungi sendiri situs ini, yang berisi pengalaman beliau selama menjadi dokter PTT.

Tetapkan visi adalah tugas pertama kita saat ini, detik ini. Dengan visi itu, kita breakdown menjadi peta hidup yang lebih detil, dan cobalah untuk memegang teguh peta itu. Itulah haluan kita. Penulis mengutip beberapa kalimat penting yang sangat bermakna dari dr. Agus, “Kita adalah nahkoda dalam hidup kita, maka tentukan tujuan mau dibawa ke mana kapal kita. Apabila kita tidak mempunyai tujuan yang jelas, maka setiap ada pulau yang indah dan tampak menjanjikan, maka kita akan mudah berlabuh, dan akhirnya akan kecewa. Maka tujuan adalah sangat penting.”

Hal kedua yang tak kalah penting dari visi adalah konsistensi, yaitu keteguhan setelah menetapkan target. Tidak mudah tergiur oleh tawaran ini dan itu, jika kita memang sudah memiliki tujuan tertentu. Maka yakinlah. Keinginan kuat dan prasangka yang baik adalah dua modal utama untuk mencapai keberhasilan.

Tanpa bermaksud tendensius, penulis merasa perlu menyampaikan bahwa Dr. Agus juga menyebutkan dua ayat Al-Quran, yaitu bahwa Allah adalah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Maka selalulah berprasangka baik. Yang kedua adalah mengenai pentingnya mempersiapkan masa depan, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 59:18).

Mimpi adalah setengah rencana, sedangkan rencana merupakan setengah dari kerja keras, dan kerja keras adalah setengah dari keberhasilan. Demikianlah rumus sederhana yang beliau yakini, yang penulis yakini pula dapat berlaku bagi semuanya. Keberuntungan berbeda dari keberhasilan, di mana keberuntungan seringkali tidak memerlukan proses, sementara keberhasilan sudah pasti merupakan akhir dari proses yang panjang yang kita usahakan.

Acara sore itu segera diakhiri karena saat itu waktu sudah menunjukkan lima menit menuju adzan maghrib. Pertanyaan-pertanyaan pada sesi kedua terpaksa disimpan untuk kesempatan berikutnya, apabila memungkinkan. Penulis menyayangkan keterbatasan waktu tersebut, dan ingin rasanya mengacungkan tinju ke udara dan berteriak, “Saya ingin bertanya!” namun apa daya.

Secara keseluruhan, acara sore itu cukup menggugah semangat untuk menetapkan tujuan dengan jelas, mau apa kita nanti. Terrmasuk menetapkan apakah tujuan dari PTT kita nanti, apakah mencari uang atau mengabdi pada masyarakat atau keduanya. Setelah tujuan jelas, maka konsistensi dan keyakinan yang kuat harus mengiringi tujuan tersebut.




Health Is Beyond Health Itself

14 02 2009

savechildren_logo-200x150

It’s when we meet particular types of patients in the ward or day clinic in the hospital, or even in the ER. A child was brought into the room with ill-appearance or severe condition. Then the doctor and us (co-ass) perform the usual procedure- standard operational procedure of anamnesis, physical examination, and differential diagnosis.
Usually it ends up with bad thing to tell to the parents. “Sorry, you came here too late, Mam”, or “We’re afraid that your child couldn’t recover fully like before” or things like that. And sure it will be followed by this sentence, “We are doing our best now.” and so forth. Then they might start blaming God for giving them such thing. It’s often difficult for them to pay for the fee in the hospital for their child.

Well the moral is that people tend to ignore health issue. People don’t really give attention to their own body, to their own family’s health condition. They think that some symptoms showing up one day don’t mean anything. The symptoms might be something mild and will resolve someday. Then time goes by, but the symptoms persist, even get worse. Then they come and see the doctor and regret that it’s way too late. Those abandoned periods are the golden period of the symptoms (which mean diseases) to grow, expand, and become severe. Ignoring the symptoms means inviting bigger problems, because when a disease is already severe, it takes time, money, and effort to be recovered.
Then it’s not uncommon that these people blame the doctor for not being able to give therapies or to alleviate the symptoms. Some even try alternatives which often makes the disease worse. Well, not all, but some.

That is a very good example of Paradigma Sakit (Paradigm of Being Sick), while Indonesia now is promoting Paradigma Sehat (Paradigm of Being Healthy), to do promotion or prevention, instead of curative approach towards diseases.

If we can prevent, why should we even wait until the disease shows up then start to cure?

I strongly believe that health issue is one of the important things to be concerned by the government. But then health is beyond health itself. It involves the people in it, the sources, the system, etc. It needs healthy mind set and healthy executors to materialize a healthy community. Well, we need to manage the human resource, education, economy, etc to reach Indonesia Sehat 2010. Oh no, it’s next year!

I imagine that health issue has always been something to discuss or even be debated. I believe it’s part of government’s yearly plan to be in the campaign. It can be asked during the campaign on race of the presidential election. So, in the next presidential election, the answer to the question: “Choose one out of the followings: health, economy, infrastructure development, the thing that is the most important to be fixed to make a better Indonesia?” is NOT health. It is economy (or education, or human resource development, or depends on the options available). By having good economy condition, it will fix the mind set. It will set up a good paradigm of health, so that people will have more concern on their health, on their own body, to prevent disease, and to stay healthy.
Thus healthy people will make healthy Indonesia, which leads to better Indonesia.